Popular Post

Posted by : blogger gentho Jumat, 12 Juli 2013


SETELAH PIM TROWULAN DIHENTIKAN, BAGAIMANA SELANJUTNYA? 
JSE Yuwono (Dosen Arkeologi UGM) dan Agus A.Munandar (Dosen Arkeologi UI)

Kendati terlambat, penghentian sementara proyek Pusat Informasi Majapahit (PIM) dirasa tepat. Kesan”sekali layar terkembang maka tidak akan surut” yang muncul sejak awal kemelut, hingga akhirnya benar-benar menuai korban kerusakan situs, jelas mengesankan sebuah arogansi kekuasaan atas amanat yang seharusnya diemban untuk mengawal keselamatan warisan sejarah ini, hingga ke anak cucu kelak. Usulan relokasi proyek (Kompas, 6/1/2008), pantas dipertimbangkan, karena lokasi PIM saat ini memang masuk ke ”core zone”nya Trowulan. Hampir setiap titik di kawasan ini adalah zone padat temuan. Selain arkeolog setempat, para dosen dan mahasiswa arkeologi yang sering melakukan ekskavasi di sana, terutama dari UI dan menyusul UGM, tahu persis seberapa besar potensi arkeologi di lokasi PIM.

Tapak Kota Trowulan
Hingga kini, Trowulan masih menjadi salah satu sumber data arkeologi terpenting di Indonesia, khususnya untuk mengungkap bentuk dan sejarah perkotaan kuna. Keletakannya di kipas aluvio-volkanik Jatirejo di utara kompleks Peg. Anjasmoro-Welirang, terapit Sungai Gunting dan Brangkal di sisi barat dan timurnya, mencerminkan ide penguasa untuk menangkap lansekap kuna ini sebagai lokasi pusat kerajaan. Keletakannya di lokasi yang paling rendah tingkat kepadatan pola alirannya, jelas menyediakan aksesibilitas, ketersediaan lahan, dan keamanan (dari ancaman banjir). Jaringan kanal dan telaga pun dibuat guna mengantisipasi kelebihan dan kekurangan air pada musim yang berbeda. Sumbu terpanjang utara-selatan kanal menjadi penghubung kaki pegunungan di selatan dengan kota Trowulan di utara. Sementara sumbu terpanjang barattimur, seolah menyatukan dua sungai utama, yaitu Gunting dan Brangkal. Sebuah disain tata ruang perkotaan yang menuntut perencanaan matang, lengkap dengan mekanisme hidrologis kanalnya yang sekaligus berfungsi sebagai pengatur micro climate untuk menjamin kesejukan kota. Trowulan juga menyisakan gambaran multi component site terpenting yang sedikitnya mengandung dua layer hunian berbeda masa. Di sisi lain, kepentingan praktis-ekonomis masyarakat yang mengeruk dan merusak jejak-jejak kemegahan Trowulan melalui penambangan tanah dan bata kuna, adalah tragedi yang telah berlangsung bertahun-tahun. Tidak terpungkiri bahwa setiap jengkal tanah Trowulan adalah bagian dari situs yang padat temuan. Hanya dengan menggali kurang dari 1 m, struktur bangunan kuna sudah dijumpai, bercampur dengan relik-relik berharga seperti keramik, mata uang kuna, dan terkadang artefak emas. Ini mempersulit kita untuk memisahkan mana aktivitas penambangan yang murni untuk membuat bata, dan mana yang hanya berkedok pembuatan bata tetapi dengan sasaran utama harta karun Majapahit.

Relokasi PIM?
Kedua sisi Trowulan di atas, senyatanya berjalan sangat tidak “adil”. Pengrusakan situs melaju terlalu cepat, meninggalkan langkah-langkah kecil penelitian dan penyelamatan jauh di belakang. Sedikit ilustrasi saja, ketika dilakukan survei untuk Penelitian Arkeologi Terpadu Indonesia (PATI 1) pada bulan Juli 2008, dijumpai sebuah site berupa gundukan tanah pada sebuah lahan kosong di Sentororejo, 1 km baratdaya Pendopo Agung. Dua minggu kemudian, ketika akan diekskavasi gundukan tersebut sudah diratakan. Aktivitas pembuatan bata sudah berlangsung. Dan benar, di bawah selapis tipis tanah yang sudah disingkap, bata kuna dalam jumlah besar, yang sebagian masih berupa struktur bangunan dijumpai. Pada kondisi ini, obsesi yang seharusnya dimiliki kalangan akademisi dan pemerintah adalah mengejar ketertinggalan dengan makin menggalakkan penelitian serta langkah-langkah nyata penyelamatan. Dengan menimbang besarnya kepentingan dan keuntungan akan lestarinya bekas Ibukota terpenting dan terlengkap di Indonesia ini, rasanya tidak ada kerugian bagi pemerintah dan akademisi untuk mencurahkan segenap pikiran dan kekuatan (dana dan tenaga ahli) untuk menangani Trowulan. Seandainya keinginan untuk meneliti dan menyelamatkan Trowulan masih membutuhkan langkah dan tahapan panjang, lalu siapa yang paling strategis untuk menghambat laju kerusakan kawasan? mengajak masyarakat berdialog? dan memantau semua kegiatan di lapangan? Jawabannya jelas! Meskipun bukan satu-satunya, tapi BP3 Jawa Timur-lah ”aktor” terpenting yang paling berkompeten. Dari sanalah etika dan kebijakan penyelamatan kawasan Trowulan seharusnya dibangun, digodog, dan direalisasir. Perguruan Tinggi berperan sebagai pensuplai data dan informasi terbaru. Memberi rujukan kasus mana yang harus diprioritaskan untuk ditangani, sementara pemerintah pusat memback up dana dan perangkat hukum untuk melindungi situs. Keterlibatan swasta semakin ditingkatkan, bukan hanya mereka yang concern ke masalah pelestarian, tetapi juga kalangan lain yang dapat memberikan solusi pengalihan sumber ekonomi penambangan ke sektor lain. Sungguh ironis memang, kerusakan terparah di kawasan kota paling bersejarah akhirnya justru dituduhkan kepada pihak-pihak yang seharusnya menjadi pemangku. Apapun keberatannya, pembangunan PIM memang harus dihentikan sementara. Relokasi Proyek PIM adalah usulan yang paling logis, karena bagaimanapun PIM memang diperlukan. Sebuah usulan yang layak kami kemukakan adalah dengan memanfaatkan exposed site Candi Gentong, 2 km utara lokasi PIM sekarang, sebagai tempat relokasi. Dari pada sisa kemegahan majapahit di lokasi ini hanya ”dikumuhkan” dengan atap seng, lebih baik dimuliakan kembali kemegahannya dengan sebuah bangunan panggung di atasnya. Rencana penggunaan lantai kaca masih layak diterapkan. Bersamaan itu pula, aktivitas penelitian, konservasi, dan preservasi situs ikut dipikirkan sematang mungkin, sebagai bagian disain dan sekaligus materi underground display PIM. Mengapa Candi Gentong? Selain exposed site-nya paling luas di Trowulan, Konteks spasialnya masih cukup lengang dari pemukiman. Pandangan ke Candi Brahu, 500 m ke arah barat tidak terganggu. Bahkan jika pengunjung ingin menikmati pemandangan ke arah tobong pembuatan bata (sebagai contoh pengrusakan situs) dijamin masih bisa. Cukup dekat di sebelah barat Candi Brahu kasus itu dijumpai. Yang kami kurang yakin, bisakah dari atas Candi Gentong nantinya puncak salah satu gerbang Majapahit, Gapura Wringin Lawang, 1,5 km ke arah timur, dinikmati? Kalau bisa, itu adalah daya tarik tersendiri. Sekali lagi, perencanaan matang dan komprehensif memang sangat ditekankan. TIDAK TERLALU MENGEJAR TARGET WAKTU, tetapi tetap dengan kewaspadaan tinggi agar masyarakat tidak terlanjur menjadikan kecerobohan yang telah terjadi sebagai legitimasi untuk semakin merusak. Tugas pemerintah ke depan tampaknya semakin berat, terutama untuk mengembalikan kewibawaan sesuai perannya sebagai penggerak pelestarian warisan budaya.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © The Future and The Past, Technology, Archaeology. . . - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes DjoganRedesign by ajiek -